Beranda Informasi Umum Struktur Organisasi Capaian Organisasi Kebijakan Pengawasan PU-Net Puprtv
Kolom Pengawasan

RS Darurat Covid-19, Bentuk Pengendalian Resiko dari Kementerian PUPR

Posted by:Vita Bakti Rafadilla   29 Jun 2020


Enam bulan belakang ini virus corona menghebohkan dunia, tak terkecuali Indonesia. Virus tersebut ditengarai menular melalui droplet dan penularan itu dapat terjadi dengan sangat cepat, bahkan virus tersebut mampu bertahan hidup tanpa inang alias pada benda mati. Adanya virus corona tersebut membuat kita semua khawatir, mengingat virus tersebut menyerang sistem pernafasan yang merupakan hal yang krusial dari tubuh kita. Untuk mengendalikan lonjakan virus tersebut, diperlukan upaya dan fasilitas yang memadai. Pemerintah melalui Kementerian PUPR menyiapkan RS Darurat Covid-19 sebagai bentuk pengendalian atas virus tersebut.

Dalam proses penyiapan RS Darurat Covid-19, Kementerian PUPR melibatkan Inspektorat Jenderal (Itjen) untuk melakukan pendampingan penyiapan Rumah Sakit Rujukan Covid-19. RS Rujukan tersebut di antaranya adalah RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, RS Khusus Covid-19 Pulau Galang, dan RS Darurat Covid-19 Lamongan. Penanggung jawab proyek RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet adalah Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan (DJPP) dengan PPK Perencanaan dan Pengendalian, Satker Pengembangan Perumahan sebagai pelaksana lapangan. Sementara itu, RS Khusus Covid-19 Pulau Galang menjadi tanggung jawab Direktorat Jenderal Cipta Karya (DJCK) selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). DJCK juga menjadi PPK untuk proyek RS Darurat Covid-19 Lamongan.

Mengacu pada SK Inspektur Jenderal Nomor 18/KPTS/IJ/2020, Itjen bertugas melakukan Pengawasan Intern dalam pelaksanaan PBJ penyiapan Wisma Atlet sebagai RS Rujukan Covid-19. Pendampingan yang dilakukan Itjen meliputi pendampingan dalam PBJ, mulai dari Dasar hingga Serah Terima Aset ke end user. Pendampingan tersebut dilaksanakan mulai April 2020 dan masih berlangsung hingga. Proyek RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet dikerjakan oleh PT Waskita Karya dengan kode emiten WSKT, PT Wijaya Karya (WIKA), PT Adhi Karya (ADHI), PT Brantas Abipraya, dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP). Terdapat tiga zona pada RS Darurat Covid tersebut, yaitu Zona Merah pada tower 5, 6 dan 7, Zona Kuning pada tower 3 dan 4, dan Zona Hijau di tower 1 dan 2. Proses pengerjaan proyek tersebut dimulai dari 13 April 2020 hingga 8 Mei 2020. RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet telah beroperasi sejak 23 Maret 2020. Pemanfaatan Wisma Atlet sebagai RS Darurat Covid-19 merupakan langkah yang tepat mengingat jumlah penduduk Jakarta sangat banyak sehingga berpotensi tinggi untuk terjadi penyebaran covid-19. Masalah tersebut diharapkan bisa diatasi dengan adanya Wisma Atlet sebagai RS Darurat Covid-19.

Pada tanggal 9 Maret 2020 hingga 8 April 2020 dilaksanakan pula pembangunan RS Pulau Galang yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau. RS Pulau Galang hingga saat ini belum diketahui nilai proyeknya secara keseluruhan dan terbagi menjadi tiga paket pekerjaan yang masing-masing dikerjakan oleh PT WIKA, PT WSKT, dan Konsultan Pengawas. PT WIKA menggarap paket pekerjaan sebesar Rp2,24 miliar untuk 100 bed dan sarana prasarana rumah sakit. PT WSKT mengerjakan paket senilai Rp1,43 miliar untuk 240 bed dan sarana prasarana rumah sakit. Konsultan Pengawas berperan dalam hal konsultasi dan pengawasan PT WIKA dan PT WSKT dalam mengerjakan proyek. Pada proyek ini Itjen melakukan pendampingan terkait kelengkapan administrasi dan kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan, mulai dari proses kontrak dengan kontraktor hingga proses serah terima kepada end user. Proses pembangunan yang ditargetkan rampung dalam waktu singkat membuat kelengkapan dokumen menjadi lebih sulit untuk terpenuhi sehingga Itjen harus senantiasa memberikan pendampingan ekstra agar kelengkapan administrasi berupa dokumen dapat terpenuhi. Penetapan keadaan darurat nasional virus corona membuat proses PBJ berbeda dengan proses PBJ pada keadaan normal sehingga perlu memperhatikan apa saja perbedaan tersebut agar tidak terjadi kekeliruan. RS Pulau Galang tersebut telah diresmikan pada 6 April 2020.

RS Darurat Covid-19 Lamongan merupakan Rumah Sakit Tipe C yang pembangunannya dilakukan selama 39 hari, dimulai pada 1 Mei 2020. Pembangunan tersebut dilakukan berdasarkan permintaan Bupati Lamongan yang telah disetujui oleh Gugus Tugas Covid-19. RS Darurat Covid-19 Lamongan dapat menampung hingga 82 pasien dalam 75 tempat tidur observasi dan 7 tempat tidur isolasi. Pembangunan rumah sakit tersebut dikerjakan oleh PT WIKA melalui anak perusahaannya yaitu PT Wijaya Karya Gedung (WEGE), dan PT Yodya Karya sebagai Konsultan Manajemen Konstruksi. Keseluruhan biaya pembangunan rumah sakit tersebut dibiayai dengan Dana Siap Pakai (DSP) BNPB sejumlah Rp37,92 miliar. Saat ini RS Darurat Covid-19 Lamongan telah diserahterimakan kepada end user pada 18 Juni 2020 melalui video conference dan telah diresmikan oleh BNPB. Pembangunan RS Darurat Covid-19 Lamongan merupakan keputusan yang tepat karena kasus covid-19 di Lamongan tergolong tinggi. Selain itu, Kabupaten Lamongan belum memiliki fasilitas yang cukup memadai untuk kasus infeksi seperti virus corona ini. Hal lain yang cukup mengkhawatirkan adalah tingginya mobilitas penduduk Lamongan yang memungkinkan virus corona tersebar dengan cepat di Lamongan. Dengan dibangunnya RS Darurat Covid-19 Lamongan, diharapkan kasus covid-19 yang terjadi di Lamongan dapat teratasi dengan baik.

 

Pustaka:

https://pu.go.id/berita/view/18228/dukung-penanganan-pasien-covid-19-di-jawa-timur-kementerian-pupr-bangun-fasilitas-ruang-observasi-dan-isolasi-di-kabupaten-lamongan

https://pu.go.id/berita/view/18403/usai-diresmikan-fasilitas-isolasi-observasi-rsud-kabupaten-lamongan-akan-bantu-pengendalian-penyebaran-covid-19

https://pu.go.id/berita/view/18107/progres-pembangunan-fasilitas-observasi-penampungan-isolasi-untuk-pengendalian-infeksi-penyakit-menular-di-pulau-galang-sudah-92-

https://pu.go.id/berita/view/18081/menteri-basuki-4-tower-wisma-atlet-kemayoran-siap-digunakan-sebagai-rs-darurat-penanganan-covid-19