Beranda Informasi Umum Struktur Organisasi Capaian Organisasi Kebijakan Pengawasan PU-Net Puprtv
Kolom Pengawasan

Audit Keselamatan Jalan Menurut Kacamata Auditor Internal

Posted by:Zuni Asih Nurhidayati   02 Jul 2020


Mengulas mengenai Audit Keselamatan Jalan (AKJ) atau Road Safety Audit (RSA) memang bukan hal yang baru di lingkungan kerja kita, namun pertanyaan umum yang sering melintas dibenak pembaca mungkin mengenai keterkaitan Auditor Internal dengan penugasan audit yang satu ini. Sebelum mengulas lebih lanjut mengenai hal tersebut, mari kita berkenalan dengan AKJ/RSA terlebih dahulu. Dijelaskan dalam Pedoman Audit Keselamatan Jalan (DPU, 2005), AKJ/RSA merupakan bagian dari strategi pencegahan kecelakaan lalu lintas dengan pendekatan perbaikan desain geometri jalan pada suatu proyek jalan baru maupun eksisting dengan ciri-ciri kegiatan sebagai berikut:

  1. Dilaksanakan oleh tim/personel yang independen (tidak terkait langsung dalam proses perencanaan desain jalan yang menjadi objek audit), memiliki pengalaman, kompetensi dan pelatihan terkait;
  2. Ruang lingkup pemeriksaan terbatas pada isu keselamatan jalan;
  3. Audit yang dilakukan tidak mengambil alih kewenangan dan tanggung jawab manajer proyek;
  4. Bukan sekedar pemeriksaan apakah sesuai standar desain atau belum namun lebih pada penilaian bagaimana pengguna jalan menggunakan jalan yang berkeselamatan (self-explaining, self-enforcement, forgiving road and roadside);
  5. Menggabungkan antara seni memahami bagaimana pengguna jalan berkendara (road user behavior) dan ilmu rekayasa keselamatan jalan (road safety engineering);
  6. Merupakan safety assurance bagi pembangunan jalan baru;
  7. Bertujuan untuk meminimalkan risiko kecelakaan, mengurangi biaya pengeluaran untuk penanganan lokasi kecelakaan dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Lalu seperti apakah ketentuan terkait dengan pelaksana AKJ/RSA dimaksud? Dijelaskan dalam peraturan tersebut bahwa pelaksanaan audit keselamatan jalan melibatkan 3 (tiga) pihak yaitu:

  1. Pemilik proyek yang bertanggung jawab terhadap proyek atau jalan yang sudah beroperasi;
  2. Perencana yaitu pihak yang bertanggung jawab terhadap bagian perencanaan/desain jalan;
  3. Pemeriksa yaitu pihak yang melakukan pemeriksaan/audit.

Menyambung dengan auditor yang dimaksud diatas adalah Auditor Keselamatan Jalan yang kompeten dimana:

  1. Ketua Tim Audit harus memiliki pengalaman dan memiliki sertifikat auditor yang dikeluarkan oleh Lembaga sertifikasi Auditor Keselamatan Jalan;
  2. Ketua Tim Audit harus pernah mengikuti pelatihan tentang Audit Keselamatan Jalan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pendidikan dan pelatihan yang terpercaya;
  3. Ketua dan atau anggota Tim Audit harus memiliki pengalaman dan pelatihan dalam bidang berikut:
  • Rekayasa keselamatan jalan (road safety engineering)
  • Penyelidikan dan pencegahan kecelakaan (accident investigation and prevention)
  • Rekayasa dan manajemen lalu lintas (traffic engineering and management)
  • Desain jalan (road design)

Jadi tertera jelas bahwa seorang Auditor Internal tidaklah cukup dalam pelaksanaan kegiatan AKJ/RSA, melainkan harus juga memenuhi persyaratan yang lainnya karena lokus yang dinilai tidak hanya kesesuaian desain jalan atau kriteria saja. Auditor Keselamatan Jalan tidak hanya bekerja berdasarkan Pedoman AKJ/RSA seperti pedoman diatas dan Austroads 2009 melainkan juga diperlukan ketajaman dalam mengenali dan melakukan analisis berbagai macam defisiensi keselamatan (SIMANTU PUPR, 2016). Sebagai penutup, pelaksanaan audit keselamatan jalan memiliki moto “makin dini, makin baik – lebih berkeselamatan, lebih murah.”

 

Pustaka

Departemen Pekerjaan Umum. (2005). Audit Keselamatan Jalan. Diakses pada tanggal 2 Juli 2020 melalui: https://keselamatanjalan.files.wordpress.com/2016/10/pedoman-pd-t-17-2005-b-audit-keselamatan-jalan.pdf

SIMANTU PUPR.(2016). Diklat Jalan Berkeselamatan. Diakses pada tanggal 2 Juli 2020 melalui: https://simantu.pu.go.id/epel/edok/802b8_10-Pengenalan_Audit_Keselamatan_Jalan.pdf