Beranda Informasi Umum Struktur Organisasi Capaian Organisasi Kebijakan Pengawasan PU-Net Puprtv
Kolom Pengawasan

Korelasi Integritas dan Profesionalisme

Posted by:Zuni Asih Nurhidayati   10 Aug 2020


Belajar dari modul “Integritas Untuk Umum”, KPK RI (2016) menekankan bahwa definisi integritas secara umumnya adalah bertindak secara konsisten sesuai dengan apa yang dikatakan. Tentu saja, hal ini tercermin dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya yaitu jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Jika dikaitkan dengan pekerjaan kita sehari-hari, maka etos kerja yang mandiri, kerja keras dan sederhana menjadi cerminan dari seorang pegawai yang berintegritas. Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya mengapa integritas diperlukan dalam melakukan pekerjaan kita? Jawabannya sangat sederhana, hal ini dikarenakan integritas memiliki korelasi yang sangat kuat dengan dedikasi dan upaya untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi. Seorang pegawai yang berintegritas tidak akan mudah tertarik dalam penyalahgunaan wewenang, melanggar hukum/aturan, dan melakukan kegiatan yang melanggar kode etik dan kode perilaku dalam bekerja. Komitmen dan loyalitas menjadi hal yang sangat penting bagi pegawai yang berintegritas dalam melaksanakan pekerjaannya, bukan terhadap orang yang menjabat namun terhadap institusi tempat pegawai tersebut bekerja.

Seperti pepatah “walk the talk” yang memiliki makna komitmen itu dimulai dari kata dan dijalankan dalam praktiknya, menjadikan nilai integritas menjadi sangat penting dalam bekerja. Baik pemimpin maupun yang dipimpin perlu memiliki komitmen yang kuat satu sama lain dalam menjalankan roda organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Disanalah terbentuk sikap profesionalisme yang menuntun pada sikap yang tidak bias, konsisten dalam menjalankan pekerjaannya, penuh tanggung jawab dengan kinerja yang terjaga mutu dan kualitasnya (Arens dkk, 2009). Contoh yang paling dekat dengan dunia pengawasan adalah seorang auditor internal yang profesional akan tercermin dalam laporan hasil auditnya yang objektif, tidak bias, isi laporannya melaporkan apa yang terjadi apa adanya, bukan berdasarkan keinginan eksekutif atau kepentingan pihak-pihak tertentu dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Lalu faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi komitmen pegawai dan membentuk sikap profesionalisme?

Sudah barang tentu setiap pegawai memiliki komitmen yang berbeda-beda dalam bekerja. Hal itu dapat terlihat dari minat pegawai dalam bekerja, kesabaran dan kemampuan dalam menghadapi penugasan, kedisiplinan, ketelitian yang semuanya mengarah pada profesionalisme dalam bekerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi perjalanan tersebut antara lain kompetensi/keahlian, pengalaman kerja dan lingkungan kerja seperti penerapan reward and punishment (Wardhani dkk, 2014). Kompetensi mencerminkan sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional seorang pegawai dalam menjalankan pekerjaannya, sedangkan pengalaman kerja akan memperluas wawasan pegawai dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada secara praktik profesional. Dua hal tersebut akan terjaga dalam lingkungan kerja yang menerapkan sistem reward and punishment karena berperan sertal dalam menumbuhkan motivasi pegawai melaksanakan pekerjaannya. Contoh sederhana apabila dikaitkan dengan dunia pengawasan dapat terlihat dari semakin tinggi motivasi seorang auditor internal dalam melaksanakan tugasnya maka semakin besar pula komitmennya dalam organisasi tersebut.

 

Pustaka

Arens, Alvin A dan James K. Loebbecke. (2009). Auditing and Assurance Service. Jakarta: Salemba Empat

DJKN Kemenkeu RI. (2014). Integritas adalah Anda. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2020 melalui: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/5903/Integritas-adalah-Anda.html

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. (2016). Integritas Untuk Umum. Diakses pada tanggal 10 Agustus 2020 melalui: https://aclc.kpk.go.id/wp-content/uploads/2019/07/Modul-Integritas-Umum-aclc-kpk.pdf

Wardhani, V. K., Triyuwono, I., & Achsin, M. (2014). Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi, Integritas, Obyektivitas dan Kompetensi Terhadap Kualitas Audit. Journal of Innovation in Business and Economics5(1), 63-74