Beranda Informasi Umum Struktur Organisasi Capaian Organisasi Kebijakan Pengawasan PU-Net Puprtv
Kolom Pengawasan

Perubahan Paradigma Auditor Internal

Posted by:Vita Bakti Rafadilla   19 Oct 2020


Bagi sebagian besar orang, mungkin kata ‘audit’ terdengar menakutkan dan profesi ‘auditor’ mungkin terkesan galak. Profesi auditor memiliki peran yang penting dalam membangun tata kelola yang baik bagi organisasi, memperbaiki manajemen risiko, dan meningkatkan pengendalian internal. Auditor dalam suatu organisasi tidak melulu berasal dari pihak independen di luar organisasi. Terdapat pula ‘auditor internal’ yang merupakan pegawai atau karyawan dari organisasi yang bersangkutan. Sedangkan auditor yang independen dari luar organisasi disebut ‘auditor eksternal’.

Pada awal keberadaannya sekitar tahun 1940-an, auditor internal dianggap berorientasi untuk mencari-cari kesalahan auditi atau biasa dikenal dengan istilah ‘watchdog’. Peran auditor internal sebagai watchdog bertujuan untuk melakukan audit kepatuhan (compliance audit) dan berfokus pada penyimpangan, kesalahan, atau kecurangan pada organisasi. Aktivitas yang dilakukan oleh auditor internal sebagai watchdog diantaranya adalah observasi, inspeksi, perhitungan, cek fisik, pengujian atas transaksi ketaatan transaksi terhadap ketentuan peraturan yang berlaku. Hal tersebut umumnya memiliki dampak dalam jangka pendek yaitu perbaikan atas kesalahan dan penyimpangan yang ditemukan.

Seiring perkembangan waktu, peran auditor internal mengalami perluasan yaitu sebagai konsultan. Hal tersebut berlangsung sekitar tahun 1970-an. Auditor internal sebagai konsultan diharapkan dapat memberikan nasehat dalam hal penggunaan sumber daya (resources) dalam organisasi yang nantinya akan membantu meningkatkan operasional organisasi. Umumnya hal ini akan memberikan dampak jangka menengah bagi organisasi berupa peningkatan efektivitas dan efisiensi organisasi. Audit yang dilakukan merupakan audit operasional yang bertujuan untuk meyakini apakah organisasi telah memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara efektif, efisien, dan ekonomis sehingga dapat dinilai apakah organisasi telah menjalankan aktivitas yang mengarah pada pencapaian tujuan organisasi.

Sekitar tahun 1990-an, terjadi perkembangan peran auditor internal yaitu sebagai katalis. Peran auditor sebagai katalis berkaitan dengan kegiatan penjaminan kualitas (quality assurance) untuk meyakinkan bahwa aktivitas yang dijalankan oleh organisasi telah menghasilkan output yang diperlukan oleh penggunanya. Pemberian quality assurance diharapkan memberikan dampak jangka panjang terkait tujuan organisasi yaitu memenuhi ekspektasi stakeholders. Perubahan paradigma auditor internal dari waktu ke waktu tidak berarti meninggalkan peran auditor yang lama, tetapi justru memperluas peran auditor. Kini auditor internal berperan sebagai watchdog, konsultan, dan katalis sekaligus.

 

Sumber:

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP. 2014. Audit Intern.

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 Tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.

http://www.itjen.kemenkeu.go.id/baca/78