Beranda Informasi Umum Struktur Organisasi Capaian Organisasi Kebijakan Pengawasan PU-Net Puprtv
Kolom Pengawasan

Mengenali Tanda-Tanda Terjadinya Fraud

Posted by:Zuni Asih Nurhidayati   17 Nov 2020


Fraud atau kecurangan merupakan hal yang sudah tidak asing lagi didengar dalam keseharian kita saat ini. Begitu gencarnya kasus pengungkapan fraud oleh KPK RI membuat kita terkadang bertanya sampai sejauh mana suatu perbuatan dinyatakan sebagai fraud. Anggraini dkk (2019) menjelaskan dalam tulisannya bahwa definisi fraud dalam bahasa aslinya merupakan tindakan melawan hukum, sedangkan Institute of Internal Auditors (IIA) juga menegaskan bahwa kecurangan yang dimaksud mencakup suatu kesatuan irregularities dan tindakan illegal yang bercirikan penipuan yang disengaja. Berdasarkan pelakunya, fraud terbagi atas dua kelompok (Tunggal, 2012) yaitu Internal (manajemen dan pegawai untuk kepentingan individu) dan Eksternal seperti supplier atau rekanan. Lantas, apa sajakah yang mendasari tindakan yang berujung fraud ini? Anugerah (2014) menjelaskan bahwa Tuanakotta (2007) membagi tiga kondisi yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan (fraud triangle) yaitu:

Tekanan (pressure) – Dorongan untuk melakukan kecurangan dapat timbul dalam berbagai situasi yang memberikan tekanan pelaku seperti kondisi keuangan (gaya hidup mewah, banyaknya hutang, narkoba, dan lainnya), tekanan dari lingkungan tempat bekerja baik dari atasan maupun rekan sekitar, ataupun sifat tamak (greedy).

Kesempatan (opportunity) – lemahnya pengendalian internal menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya fraud dalam suatu organisasi. Kesempatan yang ada dimanfaatkan oleh pelaku sebagai peluang yang terbuka lebar untuk berbuat curang.

Sikap (attitude) – sikap yang dimaksud disini adalah rasionalisasi pelaku dalam berbuat curang seperti pemikiran bahwa hal yang dilakukannya adalah hal yang wajar (pembenaran) misal pelaku merasa memiliki hak atas keuntungan perusahaan, reward atas loyalitasnya selama bekerja, ataupun sikap ketidakpuasan pelaku terhadap kebijakan manajemen.

Motif tersebut diatas dipercaya mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan/fraud seperti korupsi, penyalahgunaan asset, manipulasi laporan keuangan dan kecurangan lainnya yang bertujuan memperoleh keuntungan atau memperkaya diri sendiri. Bagaimanakah kita mengenali tanda-tanda terjadinya fraud dalam keseharian ditempat kita bekerja? Albrecht dkk (2006) dalam tulisan Anugerah (2014) menjelaskan tanda-tanda tersebut sebagai berikut:

Accounting anomalies – kejanggalan dalam penyajian laporan keuangan seperti meningkatnya item rekonsiliasi dan penggunaan suatu akun secara berlebihan (belanja barang ataupun bahan operasional).

Internal control weaknesses – kelemahan pada sistem pengendalian internal seperti tidak adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab yang jelas, lemahnya pengamanan asset, lemahnya otorisasi dan pencatatan yang tidak memadai.

Analytical anomalies – prosedur atas kejadian yang tidak biasa dan masuk akal seperti perubahan volume atau penggunaan harga pasar yang tidak masuk akal, dan transaksi keuangan yang tidak biasa.

Extravagant lifestyle – Perubahan gaya hidup seorang pegawai mulai dari level pegawai sampai dengan pimpinan yang tidak biasa seperti penggunaan mobil mewah, aktivitas berpergian keluar negeri yang tidak masuk akal dengan pendapatannya, ataupun kepemilikan barang-barang mewah.

Unusual behavior – perilaku yang tidak biasa dalam hal pelaku melakukan kecurangan ditunjukkan dengan perubahan sikap seperti stress atau terlihat tertekan, gugup, dan berbeda dari perilaku keseharian.

Tips and complaints – informasi dan pengaduan dari pihak sekitar tentang kemungkinan terjadinya fraud seperti informasi dari whistleblowing system, media cetak maupun media elektronik.

Tentunya tanda-tanda tersebut memerlukan awareness dari kita dan respon cepat tanggap yang membangun untuk mewujudkan good governance.

 

Pustaka

Anggraini, D., Triharyati, E., & Novita, H. A. (2019). Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif dalam Pengungkapan Fraud. COSTING: Journal of Economic, Business and Accounting, 2 (2), 372-380.

Anugerah, R. (2014). Peranan good corporate governance dalam pencegahan fraud. Jurnal Akuntansi, 3(1), 101-113.

Tunggal, Widjaja. (2012). Pedoman Pokok Audit Internal. Harvarindo: Jakarta